Thursday, January 24, 2013

Proposal kegiatan beladiri BKC

1.    PENDAHULUAN
a.    Sejarah Karate
Sebuah teori mengatakan bahwa asal mula karate berasal dari ilmu beladiri Okinawa, atau Okinawa-te adalah seni beladiri asli setempat yang telah mengalami perkembangan berabad-abad lamanya, dan kemudian banyak dipengaruhi oleh teknik perkelahian yang dibawa oleh para ahli seni beladiri dari China yang mengungsi ke Okinawa.
Seorang ahli ilmu beladiri lain yang sangat terkenal yang muncul pada zaman dinasti sung (920-1279 M) adalah Chang Sang Feng (Thio Sam Haong). Awalnya Chang belajar ilmu bela diri kepada Shaolin Tsu, kemudian mengasingkan diri ke gunung Wutang (Butong). Di tempat inilah dia mengamati macam-macam gerakan binatang, seperti kera, burung bangau, dan ular. Berdasarkan pengamatannya, dia menciptakan gaya perkelahian yang khas dengan pribadinya yang disebut aliran Wutang. Kalau Shaolin Chuan hanya dipratekan oleh orang pendeta budha, maka aliran  Wutang ini diperuntukan untuk orang awam yang tidak ada ikatan dengan aliran kuil manapun. Chang mengajarkan supaya menerima pukulan lawan dengan gaya lemah gemulai seperti air yang mangalir dan menyerang dengan satu kepastian  untuk mengakhiri perlawanan dengan sekali pukul. Ciptaannya didasari dengan gagasan tentang harus adanya gerak melingkar yang luwes gerakan ujung yang tajam. Aliran ini sulanjutnya memiliki danpak yang luas di dalam perkembangan seni beladiri di China. Gaya aliran Wutang ini segera tersebar merata di seluruh wilayah China bagian utara yang pada masa kemudian akan berkembang menjadi Taichi-Chuan, Hsingi-Chuan, dan Pakau-Chuan.
    Karena keuletannya untuk meneliti, melatih, dan mengembangkan diri, karate telah berhasil diterima di seluruh jepang sebagai salah satu cabang olahraga modern. Pada tahun 1923, Gichi Funakochi yang lahir di Shuri, Okinawa pada tahun 1869 untuk  pertama kalinya memperagakan Te atau Okinawa-Te di Jepang. Berturut-turut kemudian pada tahun 1929 tokoh-tokoh seperti Kenwa Mabuni, Choyun Miyagi berdatangan dari Okinawa dan menyebarkan karate di Jepang. Okinawa Te  ini yang telah di pengaruhi oleh teknik-teknik seni beladiri dari China, sekali lagi berbaur dengan seni beladiri yang sudah ada di Jepang, sehingga mengalami perubahan-perubahan dan berkembang menjadi Karate seperti sekarang ini.
Asas Karate adalah sama, namun terdapat berbagai gaya atau aliran Karate. Di antara aliran utama Karate adalah sebagai berikut :
1.    Goju-Ryu, berdiri tahun 1930 pendirinya Chojun Miyagi
2.    Shito-Ryu, berdiri tahun 1931 pendirinya Kenwa Mabuni
3.    Wado-Ryu, berdiri tahun 1938 pendirinya Hironori Otsuka
4.    Shotokan, berdiri tahun 1939 pendirinya Ghichin Funakoshi
Karate juga boleh di kategorikan sebagai aliran Tradisional dan aliran moden (Sport Karate). Aliran tradisional menumpukan aspek beladiri dan seni tempur manakala aliran moden lebih menumpukan kepada sukan atau pertandingan. Asas latihan Karate terbagi kepada tiga peringkat yaitu:
•    Kihon. Ia adalah latihan teknik asas karate seperti menumbuk, menendang, menangkis, dan mengelak
•    Kata. Ia adalah latihan jurus atau bunga karate.
•    Kumite. Ia adalah latihan beladiri atau seni tempur.

b.    Sejarah Karate BKC
BKC adalah singkatan dari Bandung Karate Club dan Bina Ksatria Cita pada pengertian yang sebenarnya, didirikan di Bandung pada tanggal 16 Juni 1966 oleh Iwa Rahadian Arsanata. BKC berpusat di kota Bandung, Jawa Barat Indonesia dengan cabang-cabangnya tersebar di seluruh wilayah Tanah Air Indonesia. Sejak tahun 1962, telah dirintis pendiriannya dengan nama Bandung Karate School for Self Defence. Gedung Mardisantosa yang terletak di Jalan sunda No. 2 Bandung adalah tempat pertama BKC didirikan. Tercatat sebagai anggota pertama terdiri dari siswa-siswi Sekolah Guru Pendidikan Jasmani, SMAN Jalan Belitung, STMN I jalan Rajiman serta beberapa orang mahasiswa UNPAD dan ITB. Sejak tahun 1967 hingga tahun 1972 tempat latihan pindah ke pendopo sekolah Tinggi Olah raga Jalan Van Deventer Bandung.



c.    Dasar Dan Tujuan Pendirian BKC
Menghimpun para pemuda, pelajar, mahasiswa dan karyawan sipil maupun militer yang mempunyai kegemaran dalam bidang Ilmu Bela Diri Karate pada khususnya dan kegemaran berolahraga pada umumnya serta berbagai kalangan dalam pembinaan olah raga beladiri berdasarkan kekeluargaan hormat-mengahormati serta saling mencintai antara satu dan sesamanya. Secara umum BKC bertujuan untuk membina setiap anggota menjadi Insan Beladiri yang Mandiri, yang memahami makna hidup dan kehidupan. Sehingga pada akhirnya, ilmu yang diperolehnya dapat bermanfaat bagi kehidupannya di masyarakat. Setiap anggota BKC dituntut untuk mampu melaksanakan Tri Ratna Keanggotaan berdasarkan kiprahnya. Mendidik dan membina setiap anggota dalam kekuatan fisik dan mental, karakter, kedisiplinan dan keterampilan agar kelak dengan ilmu yang diperolehnya dapat menyesuaikan diri dalam lingkungan masyarakat serta bertanggung jawab demi kepentingan Bangsa, Negara dan Kemanusiaan. Membantu dan berpartisipasi terhadap usaha Program Pemerintah dalam bidang pendidikan pada khususnya, dan pengembangan olah raga pada umumnya. Serta turut membantu mensukseskan Program Pemerintah dalam pembangunan manusia Indonesia seutuhnya.

d.    Dasar Pendidikan Bela Diri BKC
Sumber ajaran beladiri yang diajarkan di BKC sepenuhnya bersumberkan kepada Tuntunan ajaran Jalaksana yang merupakan Ilmu Teturunan dari Pendiri Perguruan. Kemudian sumber ajaran ini disesuaikan dan digabungkan dengan berbagai ajaran ilmu beladiri yang ada, baik yang datang dari luar maupun dengan yang telah ada di Indonesia. Dalam hal ini BKC berprinsip, mana yang baik diambil dan mana yang buruk dibuang walaupun itu budaya bangsa terlebih yang datang dari luar. Dasar pendidikan yaitu kekuatan fisik, kedisiplinan, keterampilan dan sebagai pendidikan pelengkap diantaranya pengetahuan umum tentang asal-usul Ilmu Bela Diri, budi pekerti serta keagamaan berdasarkan Ke-Tuhanan Yang Maha Esa.

e.    Teknik Pelajaran BKC
Teknik pelajaran sepenuhnya berdasarkan kepada Tuntunan Ajaran Jalaksana yang merupakan Ilmu Teturunan dari Pendiri Perguruan BKC. Pada perinsipnya takbersifat Jepang minded, taksemua dasar pendidikan serta kedisiplinan Jepang diterapkan atau ditiru dengan begitu saja, akan tetapi disesuaikan dengan alam kepribadian Bangsa Indonesia yang luhur, dengan menggunakan bahasa pengantar sehari-hari dalam latihan ialah Bahasa Indonesia disamping bahasa Jepang sebagai pengetahuan. Mengutamakan mutu dan prestasi di bidang teknik, kekuatan, fisik dan mental dengan menerapkan dan penggemblengan disesuaikan kondisi fisik, tingkat, usia, jenis kelamin serta norma susila dan keagamaan. Mempunyai corak dan ciri khas tersendiri, berdiri sendiri dengan tidak menginduk pada perguruan karate yang lain, baik yang ada di Indonesia maupun yang ada di luar Indonesia. Menjalin kerjasama antar Perguruan, atas dasar kekeluargaan, hormat menghormati, baik yang ada di luar Indonesia, BKC cinta damai tetapi lebih cinta kemerdekaan. BKC tidak bernaung pada organisasi sejenis yang telah ditetapkan oleh pemerintah.


f.    Para Pimpinan BKC Dari Tahun Ke Tahun
Tercatat sebagai Ketua Umum BKC angkatan pertama Mardisantosa, yaitu Budiarjo, S.H. kemudian dari tahun 1968-1970 BKC dipimpin oleh Kolonel (Purn) H. Anwar Tamim. Dari tahun 1971-1972 Kolonel (Purn) R. Oetje Djunjunan alm. Wali Kotamadya Bandung waktu itu berkenan menjadi Ketua Umum BKC, selanjutnya dari tahun 1973-1980 kembali BKC dipimpin oleh H. Anwar Tamim. Dan dari tahun 1981-1982 dipimpin oleh Kolonel (Purn) saleh M. Yoenoes. Dari tahun 1983 hingga sekarang ini Ir.H. Awal Kusumah M.S alm. (Putra dari H. Anwar Tamim) terpilih sebagai Ketua Umum Pengurus Besar BKC.

g.    Kegiatan-Kegiatan BKC
Sejak awal berdirinya, BKC telah berhasil menyusun program kegiatan yang terpadu sebagaimana layaknya perguruan yang sudah besar antara lain Ujian Kenaikan Tingkat, Penataran Kepelatihan, Latihan Lapangan di gunung, sungai dan pantai. Kejuaraan Intern serta pada tahun 1967, Pendiri Perguruan dilantik di Sukabumi oleh Ditjora (KONI sekarang) Jawa Barat sebagai Wakil Umum PORKI Jawa Barat (ibu Yusuf dari INKAI sebagai Ketua Umum). Kejurnas PORKI pertama diikuti, yaitu di Jakarta pada tahun 1971 kemudian di penghujung 1972 dalam Musyawarah Lembaga Aliran Karate di Jakarta yang dipimpin oleh Jendral Surono dan Widjojo Suyono, BKC dikukuhkan sebagai anggota FORKI. Dalam masalah kegiatan bentuk apapun yang dilaksanakan, BKC senantiasa berpedoman pada Dua Sesanti Perguruan : “ Pribadi Budi Ciri Mandiri Dan Mandiri Kharsa Puja Walagri”

h.    Tingkatan-tingkatan dalam sabuk karate BKC
a.    PUTIH        (Qyu VI)
b.    KUNING        (Qyu V)
c.    HIJAU        (Qyu IV)
d.    BIRU        (Qyu III)
e.    COKLAT    II    (Qyu II)
f.    COKLAT I    (Qyu I)
g.    HITAM        (Dan I - Dan VI)

2.    KETENTUAN KEGIATAN BELADIRI KARATE BKC
Ketentuan yang berlaku dalam kegiatan ekstra beladiri karate adalah sebagai berikut:
1.    Anggota wajib mengisi formulir pendaftaran sebagai persyaratan administrasi.
2.    Anggota wajib memakai DOGI/KARATEGI (Seragam Latihan) berwarna putih-putih di lengkapi dengan atribut perguruan karate yaitu logo BKC (Bandung Karate Club) dan logo FORKI (Federasi Olahraga Karate Indonesia) serta di lengkapi dengan sabuk sesuai dengan tingkatan masing-masing.
3.    Anggota wajib mengikuti latihan 1 (satu) sampai 2 (dua) kali dalam satu minggu.
4.    Menjaga nama baik perguruan dari hal-hal yang dapat merugikan perguruan.
5.    Mentaati dan mematuhi Panca Darma Kstaria BKC sebagai mana tertera di bawah ini:
1.    Sanggup mempertinggi kejujuran
2.    Sanggup mempertahankan kebenaran
3.    Sanggup mempertinggi prestasi
4.    Sanggup menguasai diri
5.    Sanggup menjaga nama baik perguruan

6.    Anggota yang telah mengikuti latihan telah mengikuti latihan secara rutin dan dapat memenuhi syarat wajib mengikuti Ujian Kenaikan Tingkat (UKT) setiap 6 (enam) bulan sekali (satu semester) yang di selenggarakan di cabang BKC terdekat.
7.    Anggota berhak mendapatkan sertifikat (Ijazah) Ujian Kenaikan Tingkat (UKT) berdasarkan hasil ujian sesuai dengan tingkatan sabuk.

3.    MAKSUD DAN TUJUAN KEGIATAN BELADIRI KARATE BKC
Maksud dan tujuan kami menyampaikan proposal pendirian kegiatan ekstra beladiri ini adalah :
a.    Menciptakan prestasi siswa dan siswi dalam bidang olahraga karate;
b.    Sebagai wadah minat dan bakat siswa dalam kegiatan di sekolah;
c.    Untuk mencari bibit-bibit anggota karate khususnya dari sekolah/madrasah
d.    Ajang pembinaan/regenerasi karate di sekolah/madrasah
e.    Melatih fisik, mental, disiplin, kujujuran, sportifitas, kesatuan, dan kesatuan para karate BKC di sekolah/madrasah
f.    Mengembangkan dan meningkatkan pragam kegiatan yang berkesinambungan dalam rangka mempersiapkan kader-kader bangsa sebagai manusia Indonesia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Easa, berkualitas dan professional.
g.    Sebagai wahana aksi dan kreasi dibidang olahraga beladiri prestasi yang mengarahakan pserta didik manpu menyalurkan hobi sekaligus sehat dan berprestasi.
h.    Merekatkan siswa/siswi sebagai identitas pemuda Indonesia, untuk mewujudkan prestasi dan bakat menuju citi-cita dan kehidupan mendatang.
i.    Menciptakan ruang yang kondusif bagi siswa/siswi untuk berkopetensi secara sehat dengan menjunjung nilai-nilai kejujuran dan seportifitas.


4.    NAMA KEGIATAN BELADIRI KARATE
Olah Bela Diri Prestasi Karate BKC (Bandung Karate Club)

5.    PESERTA KEGIATAN BELADIRI KARATE BKC
Peserta kegiatan beladiri karate ini bisa di ikuti oleh para siswa-siswi sekolah/madrasah dan peserta umum

6.    TENAGA PELATIHAN KEGIATAN BELADIRI KARATE BKC
Ketua Ranting/Pelatih    : ................
Alamat            : ................
Kontak            : ................

Pelatih 1            : ...................
Alamat            : .....................
Kontak            : ................


Pelatih 2            : ...............
Alamat            : .......................
Kontak            : ..................


7.    ANGGARAN EKSTRA BELADIRI KARATE
a.    Pendaftaran (di bayar satu kali)            Rp 10.000
b.    Seragam Karate                     Rp 80.000 – 500.000
c.    Atribut perguruan BKC dan FORKI            Rp 20.000
d.    IKESA (di bayar per bulan)                Rp 10.000

8.    PENUTUP
Atas berkat Rahmat Allah S.W.T. kami dapat merampungkan penyusunan proposal pengadaan kegiatan beladiri karate ini walau kami sadari masih banyak kekurangan. Ucapan terimakasih kami sampaikan kepada pihak yang telah banyak membantudalam penyusunan proposal ini, besar harapan kami agar proposal pengadaan kegiatan karate ini bisa dipertimbangkan untuk diterima dan atas kerjasamanya kami banyak menghaturkan terimakasih yang sebesar-besarnya.

Wednesday, January 23, 2013

Pengertian kementrian luar negeri, perwakilan demokratif dan konsuler

Pengertian Kementrian Luar Negeri
Kementerian Luar Negeri, disingkat Kemlu, (dahulu Departemen Luar Negeri, disingkat Deplu) adalah kementerian dalam Pemerintah Indonesia yang membidangi urusan luar negeri. Kementerian Luar Negeri dipimpin oleh seorang Menteri Luar Negeri (Menlu) yang sejak tanggal 22 Oktober 2009 dijabat oleh Marty Natalegawa dan Wakil Menteri yang dijabat oleh Wardana sejak 19 Oktober 2011.
Kementerian Luar Negeri merupakan salah satu dari tiga kementerian (bersama Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Pertahanan) yang disebutkan secara eksplisit dalam UUD 1945. Kementerian Luar Negeri tidak dapat diubah atau dibubarkan oleh presiden.
Menteri Luar Negeri secara bersama-sama dengan Menteri Dalam Negeri dan Menteri Pertahanan bertindak sebagai pelaksana tugas kepresidenan jika Presiden dan Wakil Presiden mangkat, berhenti, diberhentikan, atau tidak dapat melakukan kewajibannya dalam masa jabatannya secara bersamaan.

Pengertian Perwakilan Diplomatik
Perwakilan Diplomatik adalah perwakilan yang kegiatannya mewakili negaranya dalam melaksanakan hubungan diplomatik dengan negara penerima atau suatu organisasi internasional.
Menurut keppres No. 108 Tahun 2003 ttg Organisasi Perwakilan Diplomatik RI di Luar Negeri: Perwakilan diplomatik adalah kedutaan besar RI dan Perutusan Tetap RI yang melakukan kegiatan diplomatik di seluruh wilayah negara penerima dan/atau pada organisasi internasional untuk mewakili dan memperjuangkan kepentingan bangsa, negara dan pemerintah RI.

Pengertian Perwakilan Konsuler
Perwakilan Konsuler adalah Konsulat Jenderal RI dan Konsulat RI yang melakukan kegiatan konsuler di wilayah kerja di dalam wilayah negara penerima untuk mewakili dan memperjuangkan kepentingan bangsa, negara, dan pemerintah RI.

Monday, January 21, 2013

Cerita rakyat lutung kasarung versi bahasa inggris

Lutung Kasarung Story in English

A long time ago in west Java there was a kingdom.  The king was Prabu Tapak Agung.  He had two beautiful daughters and no son.  Purba Rarang was his first daughter, and Purba Sari was his second daughter.  When the king was about to pass away he gave the throne to his second daughter, Purba Sari. Purba Rarang was very disappointed.  She thought that she deserve to replace her father as the ruler.  She discussed the situation with her fiancé, Indrajaya.

Then she got an evil idea.  She asked a witch to cast a spell to Purba Sari.  Soon after that Purba Sari had a strange skin disease.  There were black dots on her skin.  She also had skin rash.  Consequently Purba Rarang had a reason to tell people that her sister had a great sin and she was cursed by god.  She told her people that such a person did not qualify to be a leader.

After that she ordered the army to send Purba Sari to a wood and had her exiled there.  The army then built a wooden house for Purba Sari in a wood.  So Purba Sari lived in the wood.  As there were many animals in the wood she got along with them well.

Her best friend was a black monkey.  She called the monkey Lutung Kasarung.  Lutung was very attentive and very kind to her.  He gave fruits and vegetables to Purba Sari.

Lutung Kasarung was not an ordinary monkey.  He often meditates like human being.  One night when there was a full moon he sat meditating.  He was praying to God. Suddenly a spring emerged beside Lutung. It became bigger and bigger and finally it became a lake.  The water was very clear and aromatic.

The next day Lutung came to see Purba Sari.  He asked her to follow him.  Lutung took her to the lake and asked her to take a bath.  When Purba Sari took bath in the lake something strange happened.  Her skin disease was gone and her smooth fair skin was back.  Purba Sari was very happy and thankful to God.

Meanwhile Purba Rarang who lived in the palace wanted to see her sister.  So she went to the wood with her soldiers.  She was very surprised when she saw Purba Sari was in good condition and looked beautiful.  Her evil heart led her to find a way to beat her sister. Then she asked her sister to measure the length of their hair.  The one who had the longest hair would win.  Purba Sari’s hair proved to be longer than Purba Rarang’s.

Purba Rarang was very jealous to her sister.  She thought hard to find a way to beat Purba Sari.  Then she got another idea.  She asked her sister to compare their fiancé.  Purba Rarang was sure that she would win because Indra Jaya was very handsome.  She was sure that Purba Sari did not have any fiancé.  When Purba Rarang showed Indra Jaya, Purba Sari was confused.  So she just appointed Lutung Kasarung as her fiancé.

Purba Rarang laughed out loud.

‘So your fiancé is a monkey?’

Lutung Kasarung then sat on the ground.  He was meditating and praying to God. Then amazingly he changed into a very handsome man.  Initially Lutung Kasarung was a handsome man who was punished by God and became a monkey.  After some years that day he got clemency from God and he became human being again.

Purba Rarang was very surprised.  He had no choice but to accept that her sister was better than her.  She asked for apology.  Purba Sari gave her apology.  After that they went back to palace.  Purba Sari became the queen and married to Lutung Kasarung.

Dongeng bahasa inggris versi bahasa inggris

Timun Emas

Long time ago, lived an old women named Mbok Sirni. She lived by herself because her husband had long passed away and she had no children. Every day, she prayed so God would give her a child. One night, when she was praying, a giant passed her house and heard her pray. “I can give you a child on one condition,” the giant said to Mbok Sirni, “You must give the child back to me when it is six years old.” Mbok Sirni was so happy; she did not think about the risk of losing the child later and agreed to take the giant’s offer. The giant then gave her a bunch of cucumber seeds. “Plant it around your house.” The giant then left without saying anything else. In the morning, Mbok Sirni planted the seeds. The seeds grew within mere days, and blossomed plentifully.Not longer after that, a big golden cucumber grew from plants. Carefully, Mbok Sirni plucked the golden cucumber and carried it home. With caution and care, she sliced the cucumber. She was very surprised to see a beautiful baby girl inside the cucumber. She then named the baby Timun Emas (it means Golden Cucumber).

Years passed by and Timun Emas has grew to become a lovely and beautiful little girl. She was also smart and kind. Mbok Sirni loved her very much. But she kept thinking about the time the giant would take Timun Emas away from her. One night, Mbok Sirni had a dream. In order to save Timun Emas from the giant, she had to meet the holy man who lived in Mount Gundul. The next morning, Mbok Sirni took leave of Timun Emas to go to Mount Gundul. The holy man then gave her four little bags, each one containing cucumber seeds, needles, salt, and shrimp paste. “Timun Emas can use these to protect herself,” said the holy man to Mbok Sirni.

A few days later, the giant came to see Mbok Sirni about her promise. “Mbok Sirni! Where is Timun Emas?” shouted the giant. “My daughter, take these bag with you. It can save you from the giant. Now, run through the back door,” said Mbok Sirni. But the giant saw Timun Emas running to the woods. The giant was angry. Starved and enraged, he rushed toward Timun Emas. Mbok Sirni tried to stop him, but the giant was unstoppable.

The giant was getting closer and closer, so Timun Emas opened the first bag she got from Mbok Sirni. Inside the bag were cucumber seeds. She threw the seeds, and instantly they grew into large cucumber field. But the giant ate them all, giving him more strength. As the giant was getting close, Timun Emas took the second bag with needles inside and spilled the content behind her. The needles turned into bamboo trees, sharp and thorny. The giant’s body was scratched and bled. “Aaargh, I’ll get you, Timun Emas!” shouted the giant as he tried to get himself out from the bamboo field. He made it and still chasing Timun Emas.

Timun Emas then reached the third bag and spilled the salt inside. The ground which the salt touched turned into a deep sea. The giant almost drown and had to swim to cross the sea. After some time, he managed to get out from the water. Timun Emas saw the giant coming, so she reached for the last bag. She took the shrimp paste and threw it. The shrimp paste became a big swamp of boiling mud. The giant was trapped in the middle of the swamp. The mud slowly but surely drowned him. Helpless, he roared out, “Help! Heeeeelp…!” Then the giant drown and died. Timun Mas then immediately went home. Since then, Timun Emas and Mbok Sirni live happily ever after.***

Cerita legenda ciung wanara dalam bahasa inggris

Ciung Wanara Story


Long time ago in west Java there was a kingdom called Galuh.  The ruler was King Barma Wijaya Kusuma.  He had two wives – Pohaci Naganingrum and Dewi Pangreyep.  At that time both of them were pregnant.  The king was very happy when Dewi Pangreyep gave birth to a baby boy.  The king named him Hariang Banga.  He was a handsome boy.

Several months later Pohaci Naganingrum also gave birth.  Dewi Pangreyep helped her during the birth process but she had an evil plan.  She had prepared a baby dog and gave it to Pohaci.  Then she put the baby in a box and had it thrown to a river.  Lengser, the man who received the order to throw the baby in a river, put him in a safe box and gave an egg.  Meanwhile Dewi Pangreyep reported to the king that Pohaci had given birth to a baby dog.

‘Oh, Your Majesty,  Pohaci is an evil woman.  Last night he gave birth but her baby is a dog!  They are sinners.  God had punished them.  This a shame for Your majesty the King and the whole kingdom”

The king was shocked and very angry to hear that.  He thought it was a shame for the royal family.  So he ordered his soldier to kill Pohaci and the baby.

‘There is no place here for sinners.  They must go to hell”

Then the king called his servant , Lengser.

“Lengser ! Bring them to the wood and kill them!”

“Yes, Your Majesty”

Lengser, who had to carry out the order, did not dare to do it.  He saved Pohaci instead.  Then  Pohaci lived in a remote village.

Meanwhile in a village by the river lived a couple of husband and wife.  Aki Balangantran lived with his wife Nini Balangantran.  Several years had passed after their marriage but still they had no children.  Day and night they prayed to god to ask for children.  One night Nini was dreaming that she saw a full moon.  Aki interpreted the dream that they would receive provision from god.  The next morning Aki went to a river with his net to fish.  Suddenly something caught his attention.  In the middle of the river there was a wooden box floating on the water.  Then he grabbed it.  He was shocked when he saw a baby inside it.  He brought the baby home and gave him a name of Ciung Wanara.   In Sundanese language Ciung means bird and Wanara means monkey.  They were very happy since they had no children.

Several years later Ciung Wanara grew up to be a handsome and smart boy.  The egg had become a cock.  Ciung loved cock fighting.  He went everywhere to play cock fighting game.  His cock was so quick and strong that it won all of its fights.  Soon he and his cock became famous in Galuh.  Everybody knew them.

Then the king of Galuh who had many cocks and also loved cock fighting heard the news.  So he ordered Lengser, his faithful assistant, to find the boy.  As Lengser got to Ciung’s house he was surprised to see the box.  He realized that it was the box he threw into the river some years earlier.  When he asked Ciung’s father he was sure that Ciung was the king’s son from Pohaci Naganingrum.   That time he wanted to do a good deed for Ciung.  Then he told Ciung that the king invited him to palace for a cock fight.  He also told ciung to ask for the kingdom if his cock win the fight.  Ciung agreed so they went to palace immediately.

Later in the palace of Galuh,  Ciung told the king that he had a condition for the cock fight.  If his cock wins, he wants the king to give him his kingdom.  If he his cock loose,  then he will give his head.  The king agreed because he was sure that his cock would win.  Then in a fierce fight Ciung’s cock won the fight.  Everybody was surprised.  The king had no choice.  He had to keep his words and give his kingdom to ciung Wanara.  Then Lengser told the king that ciung was actually hing own son from Pohaci naganingrum.  He revealed Dewi Pangreyep’s evil action.

The king was shocked and very angry.  He ordered his soldiers to arrest and punish Dewi Pangreyep.  This event made Prince Hariang Banga got very angry.  He quickly attacked Ciung Wanara.  Finally the king decided to divide his kingdom into two parts.  The border was Cipamali river.  The west of the river was given to Hariang Banga while Ciung Wanara ruled the eastern part of the kingdom.

Legenda malin kundang dalam bahasa inggris

The Legend Of Malin Kundang

Long time ago, in a small village near the beach in West Sumatera, lived a woman and her son, Malin Kundang. Malin Kundang’s father had passed away when he was a baby, and he had to live hard with his mother. Malin Kundang was a healthy, dilligent, and strong child. He usually went to the sea to catch fish, and brought it to his mother, or sold it in the town. One day, when Malin Kundang was sailing as usual, he saw a merchant’s ship which was being raided by a small band of pirates. With his brave and power, Malin Kundang defeated the pirates. The merchant was so happy and asked Malin Kundang to sail with him. Malin Kundang agreed.
Many years later, Malin Kundang became a wealthty merchant, with a huge ship, loads of trading goods, many ship crews, and a beautiful wife. In his journey, his ship landed on a beach. The villagers reconigzed him, and the news ran fast in the town: Malin Kundang became a rich man and now he is here. His mother, in deepful sadnees after years of loneliness, ran to the beach to meet her beloved son again.
When the mother came, Malin Kundang, in front of his well dressed wife, his crews and his own gloriness, denied to meet that old, poor and dirty woman. For three times she begged Malin Kundang and for three times yelled at him. At last Malin Kundang said to her “Enough, old woman! I have never had a mother like you, a dirty and ugly peasant!” Then he ordered his crews to set sail. Enraged, she cursed Malin Kundang that he would turn into a stone if he didn’t apologize. Malin Kundang just laughed and set sail. In the quiet sea, suddenly a thunderstorm came. His huge ship was wrecked and it was too late for Malin Kundang to apologized. He was thrown by the wave out of his ship, fell on a small island, and suddenly turned into stone.

Saturday, January 19, 2013

Wawacan babad cirebon

 Wawacan BABAD CIREBON


Prabu Siliwangi, raja Pajajaran berputra sembilan orang, mereka adalah raja di Jakarta, Santang Pertala di Tanjung Kuning, Raden Garantang Setra, Ismu Genereh di Lebak, Sang Sekarsari, Nyi Ratu Tunjung Buwana di pesisir barat, Nyi Gedeng Curi di Panjang pesisir selatan, Nyi Ratu di Kawali dan Nyi Sekarsah di Karang.
Kesembilan putra Siliwangi tersebut meloloskan diri dari kerajaan. Ada dua putranya lagi yang bakal menggantikan tahta kerajaan Pajajaran yang masih tinggal ialah Wulangsungsang dan Mas Rasasantang.
Dalam kesempatan berkumpul diantara raja dengan dua orang putranya serta patih Arga dan ponggawa dikatakan bahwa barang siapa yang menjumpai orang Arab harus ditangkap dan dibunuh serta kepada rakyat yang membantu orang Arab tersebut akan dijatuhi hukuman mati. Hal itu diperintahkan karena raja Siliwangi tidak mau masuk agama yang dibawa orang Arab dan tidak mau melakukan sembahyang.
Wulangsungasng selalu bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad dan disuruh berguru agama suci kepada She Nurjati di Gunung Amparan. Hal itu disampaikannya kepada ayahnya, dan mengajak ayahnya masuk agama suci. Prabu Siliwangi menolak dan marah sehingga Wulangsungsang diusirnya.
Wulangsungsang pergi dari kerajaan mencari She Nurjati. Dia bertemu dengan Seh Ora di Karawang, yang berasal dari Mekah. Oleh She Ora ditunjukannya bahwa Wulangsungsang harus berguru kepada Seh Nurjati secara langsung, karena Seh Ora melihat ada firasat bahwa Wulangsungsang akan menjadi wali. Dalam perjalanannya ke arah timur Wulangsungsang bertemu dengan pendita Danuwarsi di Gunung Merapi. Dia berguru selama sembilan bulan di sana.
Mas Rarasantang meninggalkan kerajaan pergi mencari Wulangsungsang. Raja memerintahkan patih Arga mencarinya. Tetapi, patih Arga pun tidak kembali ke keraton. Dia menjadi santri Ajar Sidik di Tajimalela dan mengganti nama menjadi Dadung Hawuk. Di perjalanan Rarasantang sampai pingsan di Tangkubanparahu. Dia ditemukan oleh Engdang Saketi dan diberi baju Antakusumah. Di Cialiwung bertemu dengan pendeta Angganyali, yang menunjukan suatu tempat ke arah timur. Di sana bertemu dengan pendeta Danuwarsi, tempat Wulangsungsang berguru. Rarasantang bertemu kembali dengan Wulangsungsang.
Setelah selesai berguru, Wulangsungsang diberi azimat cincin sampai Wulangsungsang dikawinkan dengan anak pendeta Danuwarsi yang bernama Indang Geulis dan diganti namanya menjadi Somadullah.
Dalam perjalanan mencari Seh Nurjati Wulangsungsang mendapatkan beberapa azimat. Dari Sanghyang Neke di Gunung Singkup mendapatkan golok cabang dan Wulangsungsang diberi nama Kadaullah. Dari Ratu Bango di Gunung Cangak mendapatkan piring wareng dan pendil waja.
Wulangsungsang dan Rarasantang berguru kepada Seh Nurjati di Gunung Amparan, Seh Nurjati yang berasal dari Mekah, merupakan buyut Nabi Muhammad. Dia telah ada di Gunung Amparan bertapa 200 tahun. Setelah selesai berguru agama Islam. Siti Nurjati memerintahkan kepada Wulangsungsang untuk membangun mesjid di pemukiman baru di tepi laut. Wulangsungsang diberi nama Cakrabumi atau Cakrabuana
Wulang sungsang dan Rarasantang disuruh naik haji oleh Seh Nurjati. Di Mekah, mereka berguru kepada Seh Nurbayan, patih Mesir yang ditugaskan oleh rajanya mencarikan calon isteri menemukan Wulangsungsang dan Rarasantang di Mekah. Patih Enor, Seh Nurbayan dan Wulangsungsang, serta Rarasantang pergi menghadap raja Mesir. Raja cocok akan calon istrinya. Setelah dilamar, raja Mesir dengan Rarasantang.
Rarasantang mengandung dan kemudian melahirkan putera kembar. Yang sulung diberi nama Syarif Hidayat, yang kedua Syarif Arifin. Setelah raja Mesir wafat, Syarif Arifin menjadi raja Mesir. Syarif Hidayat mempelajari ilmu agama Islam mengenai syariat, tarekat, hakekat dan marifat.
Syarif Hidayat bermimpi disuruh agar dia mencari Nabi Muhammad. Dia pamit kepada ibunya akan melaksanakan impiannya. Dia bermalam di makam Nabi Musa, Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad. Di makam Nabi Muhammad dia bermimpi lagi agar mencari Nabi Muhammad.
Dari Naga Pertala, Syarif Hidayat mendapatkan azimat cincin marbut yang dapat melihat tujuh lapis bumi dan langit. Dari Seh Nata Ula, Syarif Hidayat mendapatkan cincin mamlukat. Ketika bertarung di Pulau Majeti dengan Seh Nata Ula Syarif Hidayat diterbangkan angin hingga jatuh di Gunung Surandil di Tanah Jawa.
Setelah Syarif Arifin menjadi raja Mesir, Rarasantang kembali ke tanah Jawa. Dia tinggal bersama gurunya Seh Nurjati di Gunung Amparan Jati, Seh Nurjati disebut pula Seh Datul Iman atau Seh Datul Hafi.
Ketika turun dari gunung Surandil bersama-sama Seh Kamarullah yang berasal dari Cempa, ada seorang wanita pedagang roti yang memberi petunjuk jika ingin bertemu dengan Nabi Muhammad, tunggulah penunggang kuda. Tak lama kemudian, lewatlah di langit seorang penunggang kuda yang ternyata Nabi Hidir. Syarif Hidayat memegang ekor kuda tersebut, yang kemudian ditendangnya. Dia jatuh di negeri Ajrak yang diperintah oleh Jin bernama Abdussalam.
Syarif Hidayat diberi dua buah kalmuksan. Karena nikmatnya dia miraj ke langit. Di langit pertama, kedua dan ketiga Syarif Hidayat melihat banyak malaikat. Di langit keempat, dia bertemu dengan Nabi Isa. Di langit kelima dia melihat malaikat Jabroil, Minkail, Israil dan Ijrail. Di langit keenam dia bertemu dengan Nabi Adam, Nabi Ibrahim dan Nabi Musa. Di langit ketujuh dia menyebrangi jembatan siratal mustakim dan talmin. Kemudian naik lagi ke Loh Kadam dan Jalal Arasy Kursi. Kemudian dia sampai di tempat yang bercahaya. Di situ Syarif Hidayat bertemu dengan Nabi Muhammad.
Di antara Syarif Hidayat dengan Nabi Muhammad terjadi dialog tentang agama, syahadat, syariat, martabat, sifat zat, arasy kursi, dinding jalal, wot siratal mustakim, surga dan neraka. Setelah selesai memberikan penjelasan, Syarif Hidayat disuruh segera pulang. Sebagai tanda, dia diberi jubah sebagai pengangkatan menjadi wali sejagat dan diberi nama Sunan Jati Purba. Ketika sadar dia masih berada di dalam mesjid Ajrak.
Dia kembali ke tanah Jawa menemui ibunya di Gunung Amparan. Perjalanan dilanjutkan dengan mengunjungi para wali untuk menyamakan ajaran agama Islam dan hakikat kalimat syahadat. Lamanya Syarif Hidayat menyebarkan kalimah syahadat adalah 63 tahun.
Syarif Hidayat diuji kepandaiannya oleh raja Cina. Dia diminta meramal isteri raja Cina yang pura-pura mengandung. Dikatakannya bahwa bayi yang berada dalam kandungan adalah perempuan. Karena dianggap berbohong, Syarif Hidayat dibuang ke dalam laut. Setelah isteri raja Cina membuka bokor yang diletakan di perutnya, ternyata dia benar-benar mengandung. Anaknya yang dilahirkan benar seorang perempuan. Anak itu tidak mau menyusu kepada ibunya. Setelah berumur 12 tahun anak itu menyusul Syarif Hidayat ke dalam laut, dan di sana bertemu dengan Nabi Hidir.
Indang Geulis, istri Wulangsungsang mempunyai anak perempuan yang bernama Pakuwati. Pakuwati dikawinkan dengan Syarif Hidayat. Mereka pindah dari gunung Amparan ke Kawedrahan.
Tumenggung Suryadewangga atau Tumenggung Tuban mempunyai dua orang putra, yaitu Raden Syahid Abdurrahman dan Arsawulan. Syahid Abduraahman ingin mengetahui hal-hal setelah meninggal. Harta kekayaan habis sehingga untuk selamatan wafat ayahnya ia menjual negara kepada patihnya, seharga 2000 dinar. Dengan uang itu ia pergi ke pasar. Ketika tiba di pasar ada seorang kakek yang mengatakan bahwa jika Syahid Abdurrahman ingin menjadi wali, belilah dongengnya seharga 2000 dinar. Kakek itu berceritera bahwa ia jangan membuka rahasia pribadi, jangan menolak rezeki, jangan tidur bila mengantuk, jangan makan sebelum waktunya, jika kawin harus menahan nafsu pada malam pertama jangan digauli, dan jangan mandi pada tengah hari.
Dengan mentaati dongeng kakek tersebut, Syarif Abdurrahman selamat dari kematian atas fitnahan karena memperkosa istri raja, dan selamat atas kematian karena kawin dengan ratu Rara Narpati (yang di malam pertama selalu membunuh suaminya).
Arsawulan pergi mengembara. Dia mempunyai anak yang diberi nama Ki Talangas, yang ditipkan kepada raja Erum, yang kemudian ditipkan ke Ki Derma surya. Kemudian ia dikenal sebagai Pangeran Dermayu atau Pangeran Darajat, atau Pangeran Darmakusumah.
Nama-nama yang menyebarkan agama Islam adalah Seh Bayanullah (Sunan Gunung jati); Cakrabumi, (Wulangsungsang, Kuwu Sangkan, Somadullah, Abdul Iman, Sunan Karawelang): Syarif Hidayat (Sinuhun Kangjeng Cirebon); Sunan Giri Gajah. Seh Syahid Abdurrahman (Seh Kamarullah, Lokajaya, Sunan Bonang, Sunan Kali); Seh Benting, Seh Kambangan (Sunan Kudus); Pangeran Kendal (Sunan karang Kendal, Sunan Katon); Pangeran Madum.
Syarif Hidayat berusaha mengislamkan Prabu Siliwangi Raja Pajajaran itu dengan kesaktiannya, karena tidak mau masuk Islam, mengubah kerajaan menjadi hutan. Dengan kesaktian pula Syarif Hidayat mengubah para penghuninya menjadi harimau, yaitu mereka yang tidak mau masuk Islam.
Dalam penyebaran Islam, para wali berperang dengan kerajaan Majapahit, Raden Patah yang masuk Islam berperang dengan asiknya Husen atau Dipati Terung. Majapahit masuk Islam. Raden Fatah diangkat menjadi Sultan Demak dan dikawinkan kepada anak Syarif Arifin yang bernama Nyi Pulung Nyana. Raden Patah dikenal pula sebagai Pangeran Bintara.
Kerajaan Galuh yang sebelumnya tidak mau masuk Islam berperang dengan para wali. Kemenangan berada di pihak Islam dan Galuh pun masuk Islam.
Silsilah Kangjeng nabi adalah Nabi berputera Siti Fatimah, berputera Baginda Husen, berputra Japar Sidik, berputera Jenal Abidin, Beputera Kabir, berputera Japar Sidik, berputera Jenal Kabir, berputera jumali Kabir, berputera Sang Nata Ratu Mesir, berputera Kangjeng Sunan purba Gunung Jati.